pemerintahan Yazid ibnu Mu'awiyyah pada masa pemerintahan Bani Umayyah
Pemerintahan Yazid ibnu Muawiiyah pada periode pemerintahan Bani Umayyah
Yazid ibnu Mu'awiyyah menjabat sebagai khalifah di usianya yang ke 34 tahun menggantikan ayahnya Mu'awiyyah ibnu Abu Sufyan. Beliau dibesarkan dikalangan istana yang serba mewah, semenjak kecil ia dilayani oleh dayang dayang istana. Ia juga dikenal mempunyai kesenangan berpesiar ke tempat tempat rekreasi. Karena tumbuh dalam lingkungan istana, ia tidak memiliki pengalaman seperti ayahnya Mu'awiyyah yang sejak dari masa mudanya sudah berjuang meniti jenjang kepemimpinannya melalui tahapan tahapan yang berliku dan keras sehingga bisa menduduki jabatan tertinggi sebagai Khalifah. Oleh sebab itu Yazid yang diangkat sebagai Khalifah menggantikan ayahnya, tidak begitu banyak melakukan perluasan wilayah, bahkan timbul pemberontakan pemberontakan di negeri sendiri.
I. Perluasan wilayah
Pada masa pemerintahan Yazid ibnu Mu'awiyyah perluasan terjadi ke wilayah Afrika Utara meneruskan perluasan khalifah sebelumnya. Dalam usaha nya memperluas wilayah , pasukan islam yang dipimpin oleh panglima Ukbah ibnu Nafi' mendapat kemenangan yang gemilang sehingga bisa menaklukkan daerah Zab sampai sekitar laut Hitam. Namun pasukan islam saat itu tina tiba mendapat serangan dari tentara bar bar dan Pasukan Romawi sehingga banyak berjatuhan korban dari pasukan islam dan Ukbah ibnu Nafi' wafat pada serangan tersebut.
II. Perang karbela
Terjadi pada tahun 61 Hijriyah ( 681 Masehi ), yang melatarbelakangi peristiwa ini adalah tipu muslihat penduduk kota Kuffah yang mengirimkan utusan untuk menjumpai Husain ibnu Ali agar ia bersedia datang ke Irak untuk dinobatkan sebagai Khalifah. Rupanya tipuan tersebut berhasil memperdaya Husain, hingga akhirnya Husain mengirim utusan yang dipimpin oleh Muslim ibnu Uqail ibnu Abu Thalib yang merupakan sepupunya sendiri. Setelah sampai ke kuffah dan mengambil keputusan baiat dari sejumlah 30.000 orang, maka mereka berjanji akan membela dan mempertahankan Khalifah Husain ibnu Ali.
berita itu telah sampai ke telinga Husain dan mendorong nya untuk. Berangkat ke Kuffah bersama semua keluarganya disertai pengawal 80 orang pasukan tanpa persiapan senjata. Padahal sebelumnya Husain sudah dinasehati oleh para Ulama di hijaz agar Husain mengurungkan niatnya.
dan benar apa yang dikatakan Ulama di hijaz yang telah menasehati Husain. Setelah Husain beserta rombongan sampai di karbela ( dekat kota kuffah ) maka pasukan Yazid menangkap Husain. Dan dihadapan pasukan banyak tersebut leher Husain dipenggal kemudian dibawa ke damaskus untuk diserahkan kepada Yazid. Hal ini nantinya yang akan memicu pemberontakan kepada Yazid di daerah Hijaz.
III. Pemberontakan pemberontakan yang terjadi
a. Pemberontakan di daerah Hijaz
Terjadinya pemberontakan di daerah Hijaz yaitu di Madinah dan di Makkah antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut ini:
- adanya pengangkatan khalifah secara turun temurun
- adanya pembunuhan terhadap Husain ibnu Ali ( cucu Nabi ) secara kejam
- Yazid dinilai sebagai khalifah yang tidak cakap dalam memegang pemerintahan
b. Pemberontakan di Madinah
konflik yang terjadi akibat pembunuhan Husain ibnu Ali menyebabkan kemarahan dikalangan masyarakat Madinah, sehingga saat mendengar berita tentang pembunuhan Husain ibnu Ali secara kejam tersebut, maka masyarakat madinah berontak dan bergerak secara serentak sehingga behasil mengusir walikota Madinah san menyandera orang orang Bani Umayyah. Khalifah Yazid pun segera mengirimkan pasukan berjumlah 12.000 pasukan Dibawah pimpinan Muslim ibnu Ukbah ke Madinah . Penyerbuan pasukan Muslim tersebut dimulai dari wilayah Al-Harrah, sehingga pertempuran tersebut kemudian dikenal dengan sebutan pertempuran Al-Harrah.
c. Pemberontakan di Makkah
terjadi pada tahun ke 64 Hijriyah atau tahun 784 Masehi dibawah pimpinan Abdullah ibnu Zubair. Yazid memerintahkan Muslim ibnu Ukbah untuk melanjutkan penumpasan pemberontakan di Makkah tersebut. Namun, sebelum sampai di Makkah, Muslim ibnu Ukbah telah terbunuh. Kemudian pasukan yang semula ia pimpin, diganti panglima baru yang cukup tangguh bernama Hasan ibnu Numair. Pertempuran antara dua pasukan tersebut berjalan sengit hingga mengakibatkan sebagian dinding Ka'bah ada yang runtuh karena terkena lemparan senjata manjanik ( alat pelempar batu ) di tentara Yazid. Pada saat pertempuran sedang berlangsung tiba tiba terdengar kabar wafatnya Yazid. Seketika itu juga pertempuran dihentikan oleh Hasan ibnu Numair.
Setelah Yazid wafat, jabatan khalifah diteruskan oleh puteranya yang bernama Mu'awiyyah II ibnu Yazid. Namun tak lama menjabat, Mu'awiyyah II merasa tidak sanggup menjabat sebagai khalifah, selanjutnya jabatan khalifah diserahkan kepada umat Islam. Dan terpilihlah Marwan ibnu Hakam yang masih keturunan Mu'awiyyah sebagai khalifah berikutnya.
Yazid ibnu Mu'awiyyah menjabat sebagai khalifah di usianya yang ke 34 tahun menggantikan ayahnya Mu'awiyyah ibnu Abu Sufyan. Beliau dibesarkan dikalangan istana yang serba mewah, semenjak kecil ia dilayani oleh dayang dayang istana. Ia juga dikenal mempunyai kesenangan berpesiar ke tempat tempat rekreasi. Karena tumbuh dalam lingkungan istana, ia tidak memiliki pengalaman seperti ayahnya Mu'awiyyah yang sejak dari masa mudanya sudah berjuang meniti jenjang kepemimpinannya melalui tahapan tahapan yang berliku dan keras sehingga bisa menduduki jabatan tertinggi sebagai Khalifah. Oleh sebab itu Yazid yang diangkat sebagai Khalifah menggantikan ayahnya, tidak begitu banyak melakukan perluasan wilayah, bahkan timbul pemberontakan pemberontakan di negeri sendiri.
I. Perluasan wilayah
Pada masa pemerintahan Yazid ibnu Mu'awiyyah perluasan terjadi ke wilayah Afrika Utara meneruskan perluasan khalifah sebelumnya. Dalam usaha nya memperluas wilayah , pasukan islam yang dipimpin oleh panglima Ukbah ibnu Nafi' mendapat kemenangan yang gemilang sehingga bisa menaklukkan daerah Zab sampai sekitar laut Hitam. Namun pasukan islam saat itu tina tiba mendapat serangan dari tentara bar bar dan Pasukan Romawi sehingga banyak berjatuhan korban dari pasukan islam dan Ukbah ibnu Nafi' wafat pada serangan tersebut.
II. Perang karbela
Terjadi pada tahun 61 Hijriyah ( 681 Masehi ), yang melatarbelakangi peristiwa ini adalah tipu muslihat penduduk kota Kuffah yang mengirimkan utusan untuk menjumpai Husain ibnu Ali agar ia bersedia datang ke Irak untuk dinobatkan sebagai Khalifah. Rupanya tipuan tersebut berhasil memperdaya Husain, hingga akhirnya Husain mengirim utusan yang dipimpin oleh Muslim ibnu Uqail ibnu Abu Thalib yang merupakan sepupunya sendiri. Setelah sampai ke kuffah dan mengambil keputusan baiat dari sejumlah 30.000 orang, maka mereka berjanji akan membela dan mempertahankan Khalifah Husain ibnu Ali.
berita itu telah sampai ke telinga Husain dan mendorong nya untuk. Berangkat ke Kuffah bersama semua keluarganya disertai pengawal 80 orang pasukan tanpa persiapan senjata. Padahal sebelumnya Husain sudah dinasehati oleh para Ulama di hijaz agar Husain mengurungkan niatnya.
dan benar apa yang dikatakan Ulama di hijaz yang telah menasehati Husain. Setelah Husain beserta rombongan sampai di karbela ( dekat kota kuffah ) maka pasukan Yazid menangkap Husain. Dan dihadapan pasukan banyak tersebut leher Husain dipenggal kemudian dibawa ke damaskus untuk diserahkan kepada Yazid. Hal ini nantinya yang akan memicu pemberontakan kepada Yazid di daerah Hijaz.
III. Pemberontakan pemberontakan yang terjadi
a. Pemberontakan di daerah Hijaz
Terjadinya pemberontakan di daerah Hijaz yaitu di Madinah dan di Makkah antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut ini:
- adanya pengangkatan khalifah secara turun temurun
- adanya pembunuhan terhadap Husain ibnu Ali ( cucu Nabi ) secara kejam
- Yazid dinilai sebagai khalifah yang tidak cakap dalam memegang pemerintahan
b. Pemberontakan di Madinah
konflik yang terjadi akibat pembunuhan Husain ibnu Ali menyebabkan kemarahan dikalangan masyarakat Madinah, sehingga saat mendengar berita tentang pembunuhan Husain ibnu Ali secara kejam tersebut, maka masyarakat madinah berontak dan bergerak secara serentak sehingga behasil mengusir walikota Madinah san menyandera orang orang Bani Umayyah. Khalifah Yazid pun segera mengirimkan pasukan berjumlah 12.000 pasukan Dibawah pimpinan Muslim ibnu Ukbah ke Madinah . Penyerbuan pasukan Muslim tersebut dimulai dari wilayah Al-Harrah, sehingga pertempuran tersebut kemudian dikenal dengan sebutan pertempuran Al-Harrah.
c. Pemberontakan di Makkah
terjadi pada tahun ke 64 Hijriyah atau tahun 784 Masehi dibawah pimpinan Abdullah ibnu Zubair. Yazid memerintahkan Muslim ibnu Ukbah untuk melanjutkan penumpasan pemberontakan di Makkah tersebut. Namun, sebelum sampai di Makkah, Muslim ibnu Ukbah telah terbunuh. Kemudian pasukan yang semula ia pimpin, diganti panglima baru yang cukup tangguh bernama Hasan ibnu Numair. Pertempuran antara dua pasukan tersebut berjalan sengit hingga mengakibatkan sebagian dinding Ka'bah ada yang runtuh karena terkena lemparan senjata manjanik ( alat pelempar batu ) di tentara Yazid. Pada saat pertempuran sedang berlangsung tiba tiba terdengar kabar wafatnya Yazid. Seketika itu juga pertempuran dihentikan oleh Hasan ibnu Numair.
Setelah Yazid wafat, jabatan khalifah diteruskan oleh puteranya yang bernama Mu'awiyyah II ibnu Yazid. Namun tak lama menjabat, Mu'awiyyah II merasa tidak sanggup menjabat sebagai khalifah, selanjutnya jabatan khalifah diserahkan kepada umat Islam. Dan terpilihlah Marwan ibnu Hakam yang masih keturunan Mu'awiyyah sebagai khalifah berikutnya.
Comments
Post a Comment