pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik pada masa daulat Bani Umayyah

Pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik pada masa Bani Umayyah.
Pada usia 34 tahun Walid naik tahta sebagai khalifah, beliau dinilai kurang fasih dalam berbahasa Arab sehingga pada suatu hari ia ditegur oleh ayahnya bahwa yang memimpin bangsa Arab hanyalah orang yang baik bahasanya. Teguran tersebut lantas menjadi cambukan bagi Walid ibnu Abdul Malik untuk bekajar secara sungguh sungguh dalam bidang bahasa Arab.
Meskipun pada akhirnya ia tetap kurang fasih dalam berbahasa arab, akan tetapi namanya sangat tercatat dalam sejarah daulat Umayyah yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa diplomatik di dalam hubungan dengan negara negara tetangga nya. Kebesaran walid dapat diungkapkan, bahwa Mu'awiyyah adalah pendiri Daulat Umayyah, sedangkan Abdul Malik  yang menstabilkan pemerintahan, dan Walid ibnu Abdul Malik adalah yang menegakkan pemerintahan. Pada masa ini lah daulat Umayyah mengalami masa keemasan dimana pada masa itu segenap rakyat mendukung dan mencintainya.
Usaha yang mula mula dilakukan Walid adalah mengangkat beberapa orang orang kuat untuk menduduki jabatan jabatan penting dalam pemerintahan. Hujjaj ibnu Yusuf diangkat sebagai Amir ( jabatan diatas Gubernur ) untuk wilayah timur berkedudukan di Basrah. Untuk selanjutnya Hajjaj mengangkat dua tokoh lainnya panglima Kutaibah ibnu Muslim menjadi Gubernur wilayah Khurasan, dan panglima Muhammad ibnu Qasim sebagai Gubernur wilayah Sindu.
Usaha usaha yang dilakukan Walid selama menjabat sebagai khalifah antara lain melakukan beberapa perluasan wilayah islam, terutama ke daerah timur, ke Benua Afrika, dan daerah Eropa Barat ( Spanyol )
I. Perluasan ke timur
a. Pasukan tentara islam bergerak menuju daerah hindustan melalui lautan dan berlabuh di pulau Sailan. Pasukan yang dipimpin oleh panglima perang Muhammad ibnu Qasim telah sampai ke daerah Sindu dan masuk ke Nepal melalui daratan.
b. Panglima Kutaibah ibnu Muslim telah menyeberangi sungai Dajlah untuk memerangi negeri Turki. Farghanah terus bergerak menuju wilayah Bukhara. Setelah itu ditaklukannya Samarqand terus masuk ke Kasyhar, yaitu tanah Turkistan wilayah tiongkok 
II. Perluasan ke Afrika
Sekitar tahun 60 Hijriyah islam telah menguasai daerah Afrika yang juga sering disebut sebagai wilayah Magribil Aqsha atau magrib yang jauh. Namun umat islam di wilayah Afrika kemudian masih di rongrong oleh pasukan Bar Bar yang didukung oleh pemerintahan Byzantium.
Untuk menegakkan Islam disana, maka dikirimlah panglima Musa ibnu Nushair dan mendapatkan kemenangan serta menjadi aman kembali daerah tersebut oleh rongrongan bar bar. Dengan kemenangan tersebut, akhirnya Musa ibnu Nushair diangkat menjadi Gubernur di Magribil Aqsha dan meneruskan perluasan sampai di wilayah tepi lautan atlantik ( Maroko dan sekitarnya )
III. Perluasan ke Andalusia
Pada tahun 92 Hijriyah atau tahun 711 Masehi, permohonan Musa ibnu Nushair untuk mengadakan perluasan ke Spanyol dikabulkan oleh Khalifah Walid. Oleh sebab itu, Gubernur Musa ibnu Nushair mengirimkan pasukannya dibawah pimpinan panglima Tharif. Dan pasukan ini kembali mendapatkan kemenangan, karena itulah Gubernur Musa mengirimkan pasukan yang lebih besar lagi dibawah pimpinan Tharik ibnu Ziad yang berasal dari bangsa bar bar.
Pasukan yang gagah berani tersebut menempuh jalan melalui kota Tanger terus menyeberangi selat Jabal Tharik atau yang lebih dikenal dengan Nama selat Gibraltar. Pertempuran ini tercatat dalan sejarah dan dikenang karena setelah semua pasukan telah sampai di tepi pantai andalusia, semua perahu di bakar habis oleh Tharik, hal ini dimaksudkan agar semua pasukan tak teringat lagi untuk pulang setelah sampai di negeri musuh, karena sudah tak ada pilihan untuk mundur, maka pasukan inipun akhirnya bisa meraih kemenangan yang gemilang.

Comments

Popular posts from this blog

Pemerintahan Al Walid ibnu Yazid ibnu Abdul Malik pada masa daulat Bani Umayyah

Pemerintahan Yazid III pada periode Daulat Bani Umayyah

pekembangan Islam periode Khalifah Abu Bakar Assidiq