pemerintahan Marwan ibnu Harkam pada masa Bani Umayyah

Pemerintahan Marwan ibnu Harkam pada periode Bani Umayyah
Pada masa khalifah Ustman bin Affan, Marwan pernah menduduki jabatan sebagai sekretaris sedangkan pada masa khalifah Mu'awiyyah,  sebagai gubernur Hijaz yang berkedudukan di Madinah.
Ia diangkat sebagai khalifah menggantikan Mu'awiyyah II, namun pemerintahan Marwan hanya berlangsung sekitar 1 tahun yaitu pada tahun 64 Hijriyah sampai tahun 65 Hijriyah ( 684-685 Masehi ).
Selama pemerintahanya, tidak ada perluasan wilayah Islam. Hal ini dikarenakan singkatnya masa menjabat sebagai Khalifah dan adanya pemberontakan di negeri sendiri sebagai akibat dari kelemahan pemerintaha Yazid.
I.  Usaha Marwan ibnu Hakam
   tak banyak usaha yang dilakukan Marwan ibnu Hakam semasa ia menjabat sebagai khalifah. Mula mula yang dilakukan ialah menumpas Abdullah ibnu Zubair. Usahanya ini dimulai dengan mengirim pasukan ke Mesir untuk merebut kembali negara Mesir dari kekuasaan wali Mesir yang sudah diangkat oleh Abdullah ibnu Zubair, pasukan Marwan pun mendapat kemenangan pada saat itu. Setelah pasukan Marwan berhasil  pada pertempuran di Mesir, kemudian dilanjutkan dengan menumpas Abdullah ibnu Zubair di Hijaz beserta wali wali yang telah diangkatnya. Belum selesai usaha penumpasan di Hijaz , Marwan yang baru memerintah selama kurang lebih sembilan bulan menemui ajalnya. Sebelum itu beliau telah mengangkat Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai putera mahkota yang akan menggantikan jabatan beliau sebagai kalifah.
Kesalahan taktik Abdullah ibnu Zubair, ketika Mu'awiyyah II menyerahkan mandat jabatan khalifah kepada umat Islam, maka pada saat itu dunia Islam " kosong " dari kepemimpinan khalifah. Bersamaan dengan waktu itu, pengaruh Abdullah ibnu Zubair semakin besar, sehingga panglima Hasan ibnu Numair yang berkedudukan di Makkah bersedia mendukung Abdullah ibnu Zubair sebagai khalifah asalkan ia bersedia pindah ke Damaskus. Namun tawaran tersebut ditolak oleh Abdullah ibnu Zubair dengan pertimbangan pertimbangan ia ingin memasyurkan kembali daerah Hijaz seperti pada masa Khulafaurrasyidin, jika ia bersedia pindah ke Damaskus, maka ia akan jauh dari pendukung pendukung nya.
Dengan pertimbangan pertimbangan seperti itu menunjukkan bahwa Abdullah ibnu Zubair adalah orang yang lemah dan tidak tepat siasatnya, padahal waktu itu umat Islam menghendaki persatuan.

Comments

Popular posts from this blog

Pemerintahan Al Walid ibnu Yazid ibnu Abdul Malik pada masa daulat Bani Umayyah

Pemerintahan Yazid III pada periode Daulat Bani Umayyah

pekembangan Islam periode Khalifah Abu Bakar Assidiq