Pemerintahan Abdul Malik ibnu Marwan pada periode daulat Bani Umayyah

Masa pemerintahan Abdul Malik ibnu Marwan pada masa Bani Umayyah
Abdul Malik ibnu Marwan adalah putera Marwan ibnu Hakam, beliau menjabat sebagai khalifah menggantikan ayahnya pada usia 39 tahun. Beliau dikenal sebagai pribadi yang perkasa, dan sebagai negarawan yang cakap dan berhasil memulihkan kembali kesatuan dunia Islam. 
Suasana pemerintahan yang diwariskan oleh ayahnya Abdul Malik ibnu Hakam masih belum aman dan belum tertib. Oleh karena itu usaha yang diutamakan oleh khalifah Abdul Malik ibnu Hakam adalah mengembalikan kedamaian dan mengamankan negerinya dari ancaman pemberontakan yang sudah terjadi sejak lama. Beberapa pemberontakan pemberontakan yang harus ditangani oleh Abdul Malik antara lain :
I. Pemberontakan golongan Syi'ah
Pemberontakan yang dilakukan golongan Syi'ah ini terjadi pada tahun 66 Hijriyah ( 686 Masehi ). Dimana pada saat itu kaum pemberontak bergerak dari kuffah menuju 'Ainul wardah ( sebuah daerah yang masih dekat dengan sungai Euphrat ). Adapun sebab sebab yang terjadinya pemberontakan Syi'ah antara lain :
a. Adanya tuntutan balas atas pembunuhan Hasan ibnu Ali
b. Adanya pengingkaran Bani Umayyah atas perjanjian Madain yang terjadi antara Mu'awiyyah dengan Hasan.
Namun akhirnya pemberontakan kaum Syi'ah tersebut dapat di patahkan oleh pasukan Abdul Malik yang dipimpin oleh Abdullah ibnu Ziad dengan kekuatan pasukan sebanyak lebih dari 30.000 pasukan.
Sementara itu, dikota Kuffah sendiri juga bangkit gerakan Syi'ah yang dipimpin oleh Gubernur Mukhtar ibnu Abdullah. Pemberontakan kaum Syi'ah ini akhirnya tidak bisa ditumpas oleh pasukan Abdullah ibnu Ziad karena pasukan Mukhtar lebih kuat, bahkan pasukan mukhtar mampu menghancurkan pasukan Abdullah ibnu Ziad dan dalam pertempuran tersebut sang panglima perang  Abdullah ibnu Ziad meninggal karena terbunuh oleh pemberontak syi'ah tersebut.
II. Pemberontakan Abdullah ibnu  Zubair
Pada masa khalifah sebelumnya, pemberontakan yang dilakukan oleh Abdullah ibnu Zubair membuat  daerah kekuasaan nya semakin meluas, bahkan secara de facto daerah kekuasaan Abdul Malik ibnh Marwan masih kalah luasnya dibanding dengan daerah kekuasaan Abdulah ibnu Zubair. Dengan perbedaan daerah kekuasaan tersebut muncul anggapan dalam masyarakat bahwa khalifah yang sebenarnya adalah Abdullah ibnu Zubair, sedangkan Abdul Malik adalah pemberontak.
Karena melihat pengaruh dari Abdullah ibnu Zubair yang makin besar, maka Abdul Malik ibnu Marwan berusaha untuk menumpas Abdullah ibnu Zubair yang juga merupakan musuh terbesarnya . Dengan pasukan yang dipimpim oleh panglima besar Hajjaj ibnu Yusuf As Tsaqafi, yaitu seorang panglima yang terkenal sebagai panglima yang perkasa. Pada awalnya pasukan Abdul malik berhasil merebut Irak dan membunuh Gubernur bernama Mash'ab ( pengganti Gubernur Mukhtat ). Kemudian dari irak pasukan Abdul Malik bergerak menuju ke wilayah Hijaz dan perangpun berkecamuk di kota Makkah. Dalam pertempuran tersebut Abdullah ibnu Zubair terkepung dan akhirnya menyerah dan kemudian dibunuh. 
Dengan terbunuhnya Abdulkah ibnh Zubair, maka lenyaplah harapan orang orang hijjaz untuk mendapatkan kekuasaan politik, mereka telah mengorbankan segalanya termasuk nyawa mereka sendiri namun tak menghasilkan apa apa.
III. Pembersihan terhadap kaum Khawarij
Kaum Khawarij yang selalu membuat kekacauan di daerag timur dianggap bisa menimbulkan konflik serta bencana peperangan. Oleh karena itu setelah berhasil menumpas Abdullah ibnh Zunair maka selanjutnya Abdul Malik mengutus dua panglima untuk menumpas kaum Khawarijj tersebut. Diantara kedua panglima tersebut antara lain:
a. Hajjaj ibnu Yusuf yang pernah pernah menjadi panglima pada perang melawan Abdullah ibnu Zubair. Hajjaj ditugaskan untuk mengadakan pembersihan di daerah Kufah dan Basrah.
b. Mahlab ibnu Abi Shafrah ditugaskan untuk pembersihan di daerah Irak dan Palestina.
IV. Menumpas Amru ibnu Said
Amru ibnu Said masih termasuk keluarga Abdul Malik, ia ingin ditetapkan sebagai putera mahkota yang akan menggantikan kekhalifahan Abdul Malik setelah Abdul Malik tidak lagi menjabat, pada saat itu Abdul malik menyetujuinya, namun rupanya hal ini hanya dijadikan siasat belaka.
Maka terjadilah pembunuhan terhadap Amru ibnu Said pada suatu malam, ketika itu Amru dipanggil oleh Abdul Malik untuk menghadap kepadanya, maka datanglah Amru bersama dengan beberapa pengikutnya. Setelah Amru berada tepat didepan Abdul Malik, tepat waktu itu Amru ditangkap dan dibunuh. Kepalanya dipenggal dan kemudian dilemparkan ke hadapan para pengikutnya yang sesang menunggu dihalaman istana. Melihat hal tersebut, kemudian para pengikut Amru ibnu Said merasa putus asa lalu mereka lari bercerai cerai. Dengan terbunuhnya Amru, maka keadaan di Damaskus menjadi aman kembali.
Karena fokus utama khalifah Abdul Malik adalah mengembalikan kedamaian di negerinya, maka selama masa pemerintahan, beliau tidak melakukan perluasan wilayah islam seperti para Khalifah sebelum-sebelumnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pemerintahan Al Walid ibnu Yazid ibnu Abdul Malik pada masa daulat Bani Umayyah

Pemerintahan Yazid III pada periode Daulat Bani Umayyah

pekembangan Islam periode Khalifah Abu Bakar Assidiq