Masa pemerintahan Mu'awiyyah ibnu Abu Sufyan
Masa pemerintahan Mu'awiyyah ibnu Abu Sufyan
I. Pribadi Mu'awiyyah ibnu Abu Sofyan
Mu'awiyyah lahir pada tahun ke 15 sebelum Hijriyah. Beliau masuk Islam pada hari penaklukan kota Makkah bersama-sama dengan masyarakat makkah yang lainya. Saat beliau berusia 23 tahun, Rasulullah berusaha mempererat hubungan antara orang-orang yang baru masuk islam terutama dari kalangan pemimpin pemimpin keluarga ternama. Hal ini bertujuan / dimaksudkan agar mereka lebih mencurahkan perhatiannya terhadap ajaran agama Islam serta ajaran Islam bisa lebih meresap didalam hati mereka.
Mu'awiyyah sendiri diangkat sebagai anggota sidang pleno penulis wahyu oleh Rasulullah, dan juga beliau dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan Hadits baik Hadits yang langsung dari Rasulullah maupun Hadits dari para sahabat sahabat yang lain.
pribadi Mu'awiyah dikenal sebagai orang yang menarik, cerdas akalnya, cerdik pandai dan juga bijaksana. Ia juga dikenal sebagai seorang yang mempunyai kedalaman Ilmu pengetahuan terutama ilmu ilmu pengetahuan umum, ilmu politik, ahli hikmat, dan juga dikenal sebagai seorang yang pemaaf sehingga siapapun yang bergaul dengan Mu'awiyyah jarang yang tidak tertarik dengan nya. Selain itu iapun juga termasuk seorang yang dermawan yang sering memberikan bantuan bantuan kepada orang lain yang, namun ia juga dikenal sebagai seorang yang ambisius dalam hal jabatan, artinya ia dikenal sebagai seorang yang ingin berkuasa. Terutama saat ia membujuk pasukan Ali supaya bersedia meletakkan senjata dalam perang Shiffin yang kemudian diadakan Majlis Tahkim Daumatul Jandal, dan juga ketika ia mengadakan tekanan tekanan kepada Hasan bin Ali sehingga pada akhirnya Hasan bin Ali memilih untuk berdamai dan menyerahkan jabatan serta kekuasaan nya secara sukarela kepada Mu'awiyyah, hal terakhir adalah ketika Mu'awiyyah berusaha menghancurkan pemberontakan yang dilancarkan oleh kaum Khawarij di wilayah pedalaman Arabia di Irak dan Iran.
II. Masa pemerintahan Mu'awiyyah
Setelah Mu'awiyyah menang dalam perundingan Daumatul Jandal dan juga dapat menaklukkan Hasan bin Ali dan kemudian ia mendirikan pemerintahan Islam yang selanjutnya disebut pemerintahan Bani Umayyah, mengambil Damaskus sebagai Ibu kota Negara.
Setelah muawiyyah menjabat sebagai khalifah, maka ia pun mengangkat Yazid ( puteranya ) sebagai putera mahkota yang akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khalifah, sebenarnya tindakan ini sudah tidak lagi sesuai dan bertentangan dengan cara cara yang telah ditempuh para Khulafaurrasidin ( Umar , Abu Bakar, Utsman, dan Ali ) dimana dalam menentukan pengganti khalifah berdasarkan musyawarah. Kebijakan muawiyyah ini sebenarnya sempat mendapat tantangan dan penolakan dari sebagian besar umat Islam pada waktu itu.
III. Perluasan wilayah pada masa pemerintahan Mu'awiyyah
Mu'awiyyah dikenal sebagai seorang yang berkeinginan keras untuk memperluas dan mengembangkan wilayah Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh para khulafaurrasyidin, adapun perluasan wilayah pada masa pemerintahan Mu'awiyyah meliputi wilayah timur seperti Byzantium, dan Afrika utara.
a. Perluasan ke wilayah timur terjadi pada tahun 43 Hijriyah ( 636 Masehi ) dengan pasukan pasukan besar yang dipimpin oleh panglima Mahlab ibnu Abi Shafrah dan beberapa pasukan yang dipimpin oleh Abdullah ibnu Sawar Al-Abdi. Pasukan tersebut bergerak dari daerah Systan sampai ke lembah sungai Sind. Kota yang diperebutkan antara lain kota Quetta, Khalat, Mehar, Sehwan, dan Pattala. bahkan pasukan Mahlan ibnu Abi Shafrah bergerak maju hingga memasuki batas wilayah Hindustan dan memasuki wilayah Bannah serta Lahora yang masuk kedalam wilayah India.
Sedangkan perluasan wilayah ke bagian barat yang meliputi daerah Byzantium ( Romawi Timur ) terjadi pada awal tahun 48 Hijriyah ( 668 tahun Masehi ). Panglima yang memimpin pasukan untuk menyerang ibu kota Byzantium yaitu Konstantinopel adalah Sufyan ibnu 'Auf.
Adapun beberapa sebab yang melatar belakangi penyerbuan ke Byzantium antara lain:
- sering terjadi perampokan dan perampasan harta yang dilakukan oleh orang orang yang berasal dari Byzantium terhadap orang orang yang berada di wilayah Islam. Hak tersebutlah yang menyebabkan Mu'awiyyah ingin menumpas keganasan mereka.
- pengaruh agama Kristen Ortodok yang berpusat di Byzantium dianggap cukup berbahaya dan dapat menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan negara Islam terutama di di wilayah Timur.
- Byzantium memiliki kekayaan alam yang melimpah
Penyerbuan dan perluasan Islam di wilayah Byzantium tercatat berlangsung beberapa kali.
Yang pertama penyerbuan ke laut tengah dengan pasukan armada berjumlah 1.700 kapal perang yang menyerbu pulau pulau disekitar Yunani. Pasukan Islam berhasil menaklukkan pulau Rhodesia dan Ciprus.
Kedua, penyerbuan ke wilayah Konstantinopel yang terjadi pada tahun 48 Hijriyah ( 669 Masehi ) dan pada tahun 58 Hijriyah ( 679 Masehi ). Pada penyerbuan konstantinopel yang pertama angakatan darat dipimpin oleh panglima Sufyan bin'Auf, angaatan laut dipimpin oleh panglima Fadhalah Al-Anshari dan panglima besarnya adalah Yazid bin Mu'awiyyah. Dari kedua penyerangan tersebut pasukan Islam belum berhasil merebut konstantinopel.
b. Perluasan wilayah ke Afrika Utara.
terjadi pada tahun 50 Hijriyah ( 671 Masehi ) dengan jumlah yang cukup besar dengan pasuka pada saat itu sebanyak 10.000. Dalam usahanya memperluas wilayah di Afrika Utara pasukan Islam dapat berhasil menguasai daerah Lybia dan Tripoli yang sebelumnya berada di bawah jajahan Bangsa Roma Timur. Setelah berita kemenanga pasukan Islam di wilayah Lybia dan Tripoli, Mu'awiyyah segera mengirimkan pasukan ke Sicilia, suatu tempat yang sangat strategis sebagai pangkalan pasukan perang. Selanjutnya panglima Ukbah ibnu Nafi' menuju daerah Tunisia dan Kartago dan mendapatkan kemenangan disana.
Perluasan daerah di Afrika Utara menimbulkan rasa simpati dikalangan penduduk asli. Hal ini dikarenakan ketinggian akhlak yang ditunjukkan oleh pasukan pasukan Islam didaerah tersebut. Dengan sebab itulah kemudian suku suku dari bangsa Barbar berbondong bondong masuk Islam. Untuk mengenang jasa jasa panglima Ukbah ibnu Nafi', maka pada sisi makamnya di kota Kaitun didirikan sebuah Masjid yang diberi nama masjid Nafi' atau masjid Sidi Ukba.
Muawiyyah Ibnu Abi Sufyan tercatat menduduki jabatan sebagai Khalifah selama kurang lebih 20 tahun. Beliau wafat pada tahun ke 60 Hijriyah ( 680 Masehi ). Sebelum Mu'awiyyah menduduki jabatan sebagai Khalifah , ia pernah menjadi gubernur di wilayah Palestina pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Mu'awiyyah juga pernah menjabat sebagai gubernur di daerah Syam pada masa Ke Khalifahan Utsman bin Affan.
Menjelah wafatnya, beliau berwasiat kepada puteranya ( putera Mahkota ) Yazid ibnu Mu'awiyyah yang isinya adalah sebagai berikut :
Musuh yang selalu menghalang halangi ushanya ada empat, yaitu Husain ibnu Ali, Abdur Rahman ibnu Abu Bakar, Abdullah ibnu Zubair dan Abdullah ibnu Umar. Diantara keempat orang musuh tersebut, yang dianggap paling berbahaya adalah Abdullah ibnu Zubaid, oleh karena itu jika ia tertangkap maka harus dibunuh dan jangan diberi ampun, sedangkan yang lain nya jika tidak melawan jangan dibunuh dan hendaknya tetap dihormati.
I. Pribadi Mu'awiyyah ibnu Abu Sofyan
Mu'awiyyah lahir pada tahun ke 15 sebelum Hijriyah. Beliau masuk Islam pada hari penaklukan kota Makkah bersama-sama dengan masyarakat makkah yang lainya. Saat beliau berusia 23 tahun, Rasulullah berusaha mempererat hubungan antara orang-orang yang baru masuk islam terutama dari kalangan pemimpin pemimpin keluarga ternama. Hal ini bertujuan / dimaksudkan agar mereka lebih mencurahkan perhatiannya terhadap ajaran agama Islam serta ajaran Islam bisa lebih meresap didalam hati mereka.
Mu'awiyyah sendiri diangkat sebagai anggota sidang pleno penulis wahyu oleh Rasulullah, dan juga beliau dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan Hadits baik Hadits yang langsung dari Rasulullah maupun Hadits dari para sahabat sahabat yang lain.
pribadi Mu'awiyah dikenal sebagai orang yang menarik, cerdas akalnya, cerdik pandai dan juga bijaksana. Ia juga dikenal sebagai seorang yang mempunyai kedalaman Ilmu pengetahuan terutama ilmu ilmu pengetahuan umum, ilmu politik, ahli hikmat, dan juga dikenal sebagai seorang yang pemaaf sehingga siapapun yang bergaul dengan Mu'awiyyah jarang yang tidak tertarik dengan nya. Selain itu iapun juga termasuk seorang yang dermawan yang sering memberikan bantuan bantuan kepada orang lain yang, namun ia juga dikenal sebagai seorang yang ambisius dalam hal jabatan, artinya ia dikenal sebagai seorang yang ingin berkuasa. Terutama saat ia membujuk pasukan Ali supaya bersedia meletakkan senjata dalam perang Shiffin yang kemudian diadakan Majlis Tahkim Daumatul Jandal, dan juga ketika ia mengadakan tekanan tekanan kepada Hasan bin Ali sehingga pada akhirnya Hasan bin Ali memilih untuk berdamai dan menyerahkan jabatan serta kekuasaan nya secara sukarela kepada Mu'awiyyah, hal terakhir adalah ketika Mu'awiyyah berusaha menghancurkan pemberontakan yang dilancarkan oleh kaum Khawarij di wilayah pedalaman Arabia di Irak dan Iran.
II. Masa pemerintahan Mu'awiyyah
Setelah Mu'awiyyah menang dalam perundingan Daumatul Jandal dan juga dapat menaklukkan Hasan bin Ali dan kemudian ia mendirikan pemerintahan Islam yang selanjutnya disebut pemerintahan Bani Umayyah, mengambil Damaskus sebagai Ibu kota Negara.
Setelah muawiyyah menjabat sebagai khalifah, maka ia pun mengangkat Yazid ( puteranya ) sebagai putera mahkota yang akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khalifah, sebenarnya tindakan ini sudah tidak lagi sesuai dan bertentangan dengan cara cara yang telah ditempuh para Khulafaurrasidin ( Umar , Abu Bakar, Utsman, dan Ali ) dimana dalam menentukan pengganti khalifah berdasarkan musyawarah. Kebijakan muawiyyah ini sebenarnya sempat mendapat tantangan dan penolakan dari sebagian besar umat Islam pada waktu itu.
III. Perluasan wilayah pada masa pemerintahan Mu'awiyyah
Mu'awiyyah dikenal sebagai seorang yang berkeinginan keras untuk memperluas dan mengembangkan wilayah Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh para khulafaurrasyidin, adapun perluasan wilayah pada masa pemerintahan Mu'awiyyah meliputi wilayah timur seperti Byzantium, dan Afrika utara.
a. Perluasan ke wilayah timur terjadi pada tahun 43 Hijriyah ( 636 Masehi ) dengan pasukan pasukan besar yang dipimpin oleh panglima Mahlab ibnu Abi Shafrah dan beberapa pasukan yang dipimpin oleh Abdullah ibnu Sawar Al-Abdi. Pasukan tersebut bergerak dari daerah Systan sampai ke lembah sungai Sind. Kota yang diperebutkan antara lain kota Quetta, Khalat, Mehar, Sehwan, dan Pattala. bahkan pasukan Mahlan ibnu Abi Shafrah bergerak maju hingga memasuki batas wilayah Hindustan dan memasuki wilayah Bannah serta Lahora yang masuk kedalam wilayah India.
Sedangkan perluasan wilayah ke bagian barat yang meliputi daerah Byzantium ( Romawi Timur ) terjadi pada awal tahun 48 Hijriyah ( 668 tahun Masehi ). Panglima yang memimpin pasukan untuk menyerang ibu kota Byzantium yaitu Konstantinopel adalah Sufyan ibnu 'Auf.
Adapun beberapa sebab yang melatar belakangi penyerbuan ke Byzantium antara lain:
- sering terjadi perampokan dan perampasan harta yang dilakukan oleh orang orang yang berasal dari Byzantium terhadap orang orang yang berada di wilayah Islam. Hak tersebutlah yang menyebabkan Mu'awiyyah ingin menumpas keganasan mereka.
- pengaruh agama Kristen Ortodok yang berpusat di Byzantium dianggap cukup berbahaya dan dapat menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan negara Islam terutama di di wilayah Timur.
- Byzantium memiliki kekayaan alam yang melimpah
Penyerbuan dan perluasan Islam di wilayah Byzantium tercatat berlangsung beberapa kali.
Yang pertama penyerbuan ke laut tengah dengan pasukan armada berjumlah 1.700 kapal perang yang menyerbu pulau pulau disekitar Yunani. Pasukan Islam berhasil menaklukkan pulau Rhodesia dan Ciprus.
Kedua, penyerbuan ke wilayah Konstantinopel yang terjadi pada tahun 48 Hijriyah ( 669 Masehi ) dan pada tahun 58 Hijriyah ( 679 Masehi ). Pada penyerbuan konstantinopel yang pertama angakatan darat dipimpin oleh panglima Sufyan bin'Auf, angaatan laut dipimpin oleh panglima Fadhalah Al-Anshari dan panglima besarnya adalah Yazid bin Mu'awiyyah. Dari kedua penyerangan tersebut pasukan Islam belum berhasil merebut konstantinopel.
b. Perluasan wilayah ke Afrika Utara.
terjadi pada tahun 50 Hijriyah ( 671 Masehi ) dengan jumlah yang cukup besar dengan pasuka pada saat itu sebanyak 10.000. Dalam usahanya memperluas wilayah di Afrika Utara pasukan Islam dapat berhasil menguasai daerah Lybia dan Tripoli yang sebelumnya berada di bawah jajahan Bangsa Roma Timur. Setelah berita kemenanga pasukan Islam di wilayah Lybia dan Tripoli, Mu'awiyyah segera mengirimkan pasukan ke Sicilia, suatu tempat yang sangat strategis sebagai pangkalan pasukan perang. Selanjutnya panglima Ukbah ibnu Nafi' menuju daerah Tunisia dan Kartago dan mendapatkan kemenangan disana.
Perluasan daerah di Afrika Utara menimbulkan rasa simpati dikalangan penduduk asli. Hal ini dikarenakan ketinggian akhlak yang ditunjukkan oleh pasukan pasukan Islam didaerah tersebut. Dengan sebab itulah kemudian suku suku dari bangsa Barbar berbondong bondong masuk Islam. Untuk mengenang jasa jasa panglima Ukbah ibnu Nafi', maka pada sisi makamnya di kota Kaitun didirikan sebuah Masjid yang diberi nama masjid Nafi' atau masjid Sidi Ukba.
Muawiyyah Ibnu Abi Sufyan tercatat menduduki jabatan sebagai Khalifah selama kurang lebih 20 tahun. Beliau wafat pada tahun ke 60 Hijriyah ( 680 Masehi ). Sebelum Mu'awiyyah menduduki jabatan sebagai Khalifah , ia pernah menjadi gubernur di wilayah Palestina pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Mu'awiyyah juga pernah menjabat sebagai gubernur di daerah Syam pada masa Ke Khalifahan Utsman bin Affan.
Menjelah wafatnya, beliau berwasiat kepada puteranya ( putera Mahkota ) Yazid ibnu Mu'awiyyah yang isinya adalah sebagai berikut :
Musuh yang selalu menghalang halangi ushanya ada empat, yaitu Husain ibnu Ali, Abdur Rahman ibnu Abu Bakar, Abdullah ibnu Zubair dan Abdullah ibnu Umar. Diantara keempat orang musuh tersebut, yang dianggap paling berbahaya adalah Abdullah ibnu Zubaid, oleh karena itu jika ia tertangkap maka harus dibunuh dan jangan diberi ampun, sedangkan yang lain nya jika tidak melawan jangan dibunuh dan hendaknya tetap dihormati.
Comments
Post a Comment